Jelajah wisata alam Indonesia, adalah catatan pribadi, sarana untuk untuk menuangkan pengalaman, ceritakan keindahan wisata alam Indonesia

Tampilkan postingan dengan label Wisata Religi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Religi. Tampilkan semua postingan

10.11.15

Makam Aer Mata Arosbaya Bangkalan

Lokasi komplek Makam Aer Mata Ibu terletak di Desa Buduran Kecamatan Arosbaya Bangkalan Madura. Sebelah utara dari Kota Bangkalan berjarak sekitar 17 km dan dapat ditempuh dengan perjalanan darat sekitar 30 menit. Dari arah Surabaya berjarak sekitar 42 km via jembatan Suramadu.




Terdapat tiga cungkup di dalam area makam utama, diluar makam utama juga terdapat cungkup makam keluarga Raja Bangkalan. Masing-masing cungkup terdapat makam-makam yang memiliki seni ukir tinggi. 

Makam permaisuri Syarifah Ambami berada di sisi paling utara, dengan bangunan lebih tinggi dibandingkan dengan makam-makam lainnya. Disisi selatan atau bawah terdapat banyak makam kuno yang merupakan makam keturuan atau abdi dalem dari Permaisuri Raja madura Barat Cakraningrat I Syarifah Ambami.

Sejarah dan asal usul nama Makam Aer mata


Asal usul makam Aer Mata berasal dari kisah Pangeran Cakraningrat I yang memerintah  Pulau Madura sekitar tahun 1624 - 1648 masehi.
Menurut cerita,... 
Pada jaman dahulu, pada jaman pemerintahan Sultan Agung di Mataram. Pada suatu hari Sultan Agung kedatangan tamu, yaitu rombongaan dari Sampang Madura yang dipimpin oleh Panembahan Juru Kiting. Bertujuan mau menghadapkan Raden Praseno yaitu salah satu putra Raja Arosbaya.
Setelah maksud kedatangannya dijelaskan kepada Sultan Agung tentang asal usul dari Raden Praseno, maka Sultan Agung merasa iba sebab Raden Praseno telah ditinggalkan oleh ayahnya ketika ia masih kecil.
Oleh karena itulah maka Sultan Agung memberikan kepercayaan kepada Raden Praseno dan mengangkatnya menjadi Raja Arosbaya dan berkedudukan di Sampang dengan gelar Pangeran Cakraningrat I menggantikan pamannya yang bernaman Pangeran Mas.
Beliau mempunyai seorang permaisuri yang bernama Syarifah Ambami.

Walaupun memerintah di Madura namun Pangeran Cakraningrat I banyak menghabiskan waktu di Mataram membantu Sultan Agung. Pemerintahan di Madura berjalan dengan lancar walaupun beliau tidak berada di Madura.
Karena Pangeran Cakraningrat I sering berada di Mataram, istrinya Syarifah Ambami merasa sangat sedih. Siang dan malam sang permaisuri menangis meratapi nasib dirinya. Akhirnya permaisuri bertekat untuk menjalankan pertapaan. beliau memilih sebuah bukit yang terletak di daerah Buduran Arosbaya. 
Dalam pertapaan sang permaisuri selalu memohon dan berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa, semoga keturunanya kelak dapat ditakdirkan menjadi penguasa pemerintah di Madura sampai ke keturunan yang ketujuh.
Diceritakan juga dalam pertapaannya beliau bertemu dengan Nabi Haedir A.S. dan memperoleh kabar bahwa permohonannya insyaalloh akan dikabulkan. Betapa senang hati beliau, akhirnya beliau bergegas kembali ke kerajaan Sampang.
Selang beberapa waktu Pangeran Cakraningrat I kembali dari Mataram dan diceritakan semua pengalamanya selama ditinggal suaminya, bahwa beliau melakukan pertapaan dan dicerikan pula hasil dari pertapaannya.
Setelah mendengarkan cerita dari istinya itu, Pangeran Cakraningrat I bukannya merasa senang dan bahagia akan tetapi justru merasa bersedih dan kecewa terhadap istrinya, karena istrinya hanya berdoa sampai keturunan ketujuh saja.
Melihat kekecewaan yang terjadi pada suaminya maka sang permaisuri merasa sangat bersalah dan sangat bedosa terhadap suaminya.
Setelah Pangeran Cakraningrat I kembali ke Mataram, sang permaisuri pergi bertapa lagi, memohon agar semua kesalahan dan dosa terhadap suaminya diampuni.
Dengan perasaan sedih Permaisuri terus menjalani pertapaannya, beliau selalu menangis, menangis dan selalu menangis, sehingga air matanya mengalir membanjiri sekeliling tempat pertapaannya sampai beliau wafat dan di makamkan ditempat pertapaannya. Sekarang ini kita kenal dengan nama "Makam Aer Mata"


Share:

6.11.15

Wisata Religi Madura Makam Sayyid Yusuf

Berkunjung ke Kabupaten Sumenep belum lengkap rasanya jika tidak menyempatkan waktu untuk berkunjung ke salah satu tempat wisata religi yang ada di kabupaten Sumenep ini, yaitu Makam Sayyid Yusuf. 

Letak Makam Sayyid Yusuf terletak di sebuah pulau yaitu Pulau Telango atau biasa disebut dengan sebutan Pulau Poteran, Desa Talango Kecamatan Talango Kabupaten Sumenep Madura. Untuk menuju ke tempat wisata religi ini pengunjung harus menyebrang dahulu dengan menggunakan perahu dari pelabuhan Kalianget.

Makam Sayyid Yusup ramai dikunjungi oleh para Peziarah. Peziarah yang datang tidak hanya berasal dari Pulau Madura saja, Peziarah yang datang dari daerah-daerah lainnya juga banyak, seperti Peziarah dari Jawa. Sumatra. Kalimantan. dan Sulawesi.
Sayyid Yusuf merupakan salah satu keturunan Nabi Muhammad yang dilahirkan di Makkah. Beliau melakukan perjalanan sebagai musafir untuk menyebarkan Agama Islam ke arah tenggara sehingga sampai di Kalimantan dan selanjutnya ke Pulau Madura. Terdapat kesimpang siuran mengenai sejarahnya.

Asal usul Makam Sayyid Yusuf

Berdasarkan Cerita turun temurun penemuan Makam Sayyid Yusuf diketemukan pada Tahun 1791 Masehi oleh Sri Sultan Abduurrahman Pangkutaningrat.
Pada tahun 1791 masehi atau pada tahun 1212 Hijriyah, Raja Sumenep Sri Sultan Abduurrahman Pangkutaningrat, beserta Prajuritnya berangkat dari Kraton Sumenep Madura untuk menuju ke Pulau Bali dengan tujuan untuk menyebarluaskan Agama Islam.
Sesampainya di pelabuan Kalianget karena hari telah sore, maka Beliau memutuskan untuk bermalam. Sekitar jam 12 malam Baginda Raja terkejut melihat sinar/cahaya yang sangat terang benerang, seolah-olah jatuh dari langit ke bumi sebelah timur pelabuan Kalianget/ di Pulau Poteran.
Setelah selesai sholat Shubuh, Baginda Raja beserta Prajuritnya naik perahu menuju Pulau Poteran untuk mencari tanda jatuhnya sinar tersebut. Setelah sampai di Pulau Baginda Raja masuk hutan, lalu mendapatkan tanda yang menyakinkan seakan akan kuburan baru. Lalu Baginda Raja mengucapkan salam dan salam Beliau dijawab dengan suara jelas, namun tidak ada yang menampakan diri.
Selanjutnya Baginda Raja ingin mengetahui suara tersebut maka Beliau munajat atau memohon kehadirat Allah Yang Maha Esa, tiba-tiba jatuh sehelai daun diharibaannya dan setelah diperhatikan daun tersebut tertulis dengan tulisan Arab " HADZA MAULANA SAYYID YUSUF BIN ALI BIN ABDULAH ALHASANI " 
Selanjutnya Baginda Raja memasang batu nisan, dengan diberi nama sesuai dengan yang tertulis didaun. Baginda Raja menancapkan tongkatnya didekat makam, sesaat sebelum Beliau melanjutkan perjalannanya ke Pulau Bali. Diyakini tongkat Baginda Raja hidup sampai sekarang, menjadi pohon yang besar dan rindang.
Setelah beberapa lama Kuburan / Pesarean  diberi congkop / pendopo kecil, anehnya kuburan Sayyid Yusuf pindah ke sebelah timur dengan arti tidak menghendaki diberi cungkup.
Dan sekitar kurang lebih satu tahun kemudian, Baginda Raja mendatangi lagi kuburan / pesarehan Sayyid Yusuf dan membangun pendopo di sekitar kuburan dan membangun Masjid Jami Kecamatan Talango. Kemudian makam tersebut dikenal dengan sebutan AstaSayyid Yusuf.
Pada tahun 1986 Masehi didirikan sebuah yayasan dengan nama Yayasan Asta Sayyid Yusuf, yang bergerak dibidang pendidikan, mulai dari Madrasah Ibtidayah (MI) MTS dan SMA
Demikian Riwayat singkat Kuburan Sayyid Yusuf, dari berbagai sumber dan dari selebaran yang diberikan saat ziarah
Share:

15.10.15

Wisata Religi Banten Makam Syeihk Djamaluddin Merak


Ziarah ke makam Syeihk Djamaluddin Merak Banten.
Ketika jalan-jalan ke Kota Merak Banten pada akhir bulan September 2015 Saya sempatkan untuk Ziarah ke makam Syeihk Djamaluddin yang berada di dalam kompleks pelabuhan ASDP Merak. Bertepatan dengan malam jum’at paing sekitar pukul 10 malam.


Lokasi makam tidak jahu dari pintu masuk pelabuhan ASDP berjarak sekitar 500 meter. Itu Saya ketahui dari plang penunjuk arah yang terpampang di depan pintu masuk pelabuhan.
Karena baru pertama kali jalan-jalan di Kota Merak dan perdana masuk ke kawasan pelabuhan Merak, tentunya Saya sedikit kebingungan, namun setelah beberapa kali bertanya pada petugas yang ada di pelabuhan akhirnya sampai juga ke makam Syeihk Djamaluddin dengan selamat tanpa ada halangan yang berarti. 

Makam Syeihk Djamaluddin termasuk salah satu tempat tujuan wisata religi Merak Banten.
Karena Saya belum sholat isa, maka Sesampainya di komplek makam segera Saya mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat isa di masjid yang ada di dekat makam. Selesai sholat selanjutnya menuju ke makam, didalam bangunan makam sudah ada sekitar 15 orang peziarah yang membaca tahlil dan berzikir.
Seperti makam makam lain yang dijadikan sebagai tempat tujuan wisata religi yang banyak peziarahnya, makam Syeihk Djamaluddin juga sering diziarahi terutama di malam jum’at dan hari-hari menjelang bulan Ramadhan. Bangunan makam Syeihk Djamaluddin tampak seperti gazebo dan disekitarnya dibangun beberapa pondok kecil seperti pondokan ditempat2 wisata yang diperuntukan sebagai tempat istirahat para peziarah.


Syeihk Djamaluddin merupakan salah satu Tokoh Islam yang diyakini oleh masyarakat Merak sebagai pelopor pembuat Pelabuhan Merak.

Share:

11.5.15

Wisata Religi Masjid Ampel Surabaya

Wisata religi Masjid Ampel Surabaya. Masjid Ampel yang terletak di kelurahan Ampel Kecamatan Semampir Kota Surabaya Jawa Timur merupakan masjid kuno peninggalan sejarah masa lalu. Didirikan pada tahun 1421 oleh Sunan Ampel, dengan luas masjid 120 x 180 meter. Tidak jahu dari masjid terdapat kompleks pemakaman. Masjid Ampel termasuk tempat wisata gratis Surabaya
Dibagian utara bangunan Masjid Ampel berbatasan dengan pemukiman dan makam, sebelah timur dan selatan berbatasan dengan pemukiman dan toko-toko sedangkan sebelah barat masjid terdapat kompleks makan Sunan Ampel.
Sekilas tentang kondisi Masjid Ampel


Masjid Ampel Surabaya memiliki luas sekitar 562 meter persegi, dibagian selatan masjid terdapat bangunan bertingkat dua yang difungsikan untuk mushala khusus wanita yang berada dilantai satu. Sebelah barat masjid terdapat  makam Sunan Ampel dan dan makam para pengikut-pengikut sang Sunan.
Serambi masjid terdapat di ketiga sisi bangunan utama yaitu dibagian utara, selatan dan timur. Pada ketiga serambi ini terdapat kurang lebih 21 tiang penyangga berbentuk bulat.
Ruang utama dari masjid Ampel ini, memiliki sembilan buah pintu yang menghubungkan ke serambi masjid. Tiga pintu menghubungkan ke masing-masing serambi, baik serambi utara, timur ataupun serambi selatan. Didalam ruang utama terdapat sekitar 28 tiang penyangga yang berbentuk empat persegi.
Masjid Sunan Ampel masuk dalam katagori  masjid-masjid tertua yang ada di Indonesia, yang dibangun pada tahun 1421 masehi oleh Raden achmad Rachmatullah atau yang lebih dikenal sebagai Sunan Ampel. Arsitektur dari masjid ini bernuansa kebudayaan Arab yang kental terlihat dari bentuk pintu dan jendela, pilar-pilar besar, dan garis-garis melengkung yang menghiasi dibagian atas pintu dan jendela.
Sunan Ampel fawat pada tahun 1481 dan dimakamkan di sebelah barat masjid. Di kompleks pemakaman Sunan Ampel selain  makam Sunan Ampel terdapat beberapa makam lainnya, diantaranya terdapat makam Mbah Sonhaji atau Mbah Bolong, makam Mbah Soleh, Beliau adalah pengikut Sunan Ampel yang bertugas menjaga dan membersikan Masjid Ampel. Dan masih ada sekitar 182 makam syuhada haji yang meninggal dalam musibah di Maskalea Colombo, Sri Langka pada tahun 1974. Kompleks makan dikelilingi tembok setinggi 2,5 meter.
Di tempat ini juga terdapat sumur bersejarah yang sekarang sudah ditutup, banyak yang percaya air dari sumur ini memiliki keistimewaan dan kelebihan seperti air zamzam di Mekkah. Banyak pengunjung yang minum atau mengambil untuk dibawah pulang, yang telah disediakan didalam gentong-gentong diarea pemakaman.

Share:

4.3.15

Makam Pahlawan Nasional Tuanku Imam Bonjol

Senin, 02 Maret 2015. Untuk pertama kalinya Saya datang ke Makam Tuanku Imam Bonjol Tidak terfikirkan sebelumnya jika sesunggunya Letak makam pahlawan Nasional Tuanku Imam Bonjol berada di Desa Lotak Kecamatan Pineleng Kabupaten Minahasa. Tidak jahu dari Kota Manado. sebelumnya Saya kira makam Tuanku Imam Bonjol ada di Sumatra dan ternyata makamnya ada di Sulawesi Utara. Alhamdulilah .... Saya bisa berkunjung ke sini. Memasuki kawasan makam yang cukup luas, terlihat sangat sepi. Setelah dari tempat parkir kendaraan, Saya melewati taman dengan beraneka ragam bunga. Masuk ke bangunan yang bergaya  khas Sumatera Barat terlihat dari bentuk atapnya yang berbentuk bagonjong. Di dalam bangunan hanya ada 1 makam, batu nisan marmer bertuliskan nama asli, gelar dan tanggal Beliau wafat. Ada Lukisan tiga dimensi didinding sebelah kanan mengambarkan Tuanku Imam Bonjol sedang naik Kuda putih, tangan kiri memegang tali Kuda dan tangan kanan memegang senjata.

Tempat Ibadah Tuanku Imam Bonjol

Lihat dari petunjuk yang ada di dinding bagunan, mengarahkan Saya untuk melihat batu yang dulu dipakai oleh Beliau untuk Sholat. Menuruni anak tangga yang ada disamping bagunan, kanan dan kiri ada pohon-pohon bambu, sambil menuruni anak tangga iseng-iseng Saya hitung jumlahnya, ya...ada 75 (jika tidak salah hitung) anak tangga yang harus dilalui jika ingin turun melihat Tempat Ibadah Tuanku Imam Bonjol. Tempat ibadah imam Bonjol berupa batu besar yang permukaannya rata, Didekat batu tersebut, terdapat sumur yang digunakan untuk mengambil air wudhu. lokasi ini tepat di tepi sungai Malalayang. Dan sudah terlindungi oleh bangunan yang menurut Bapak Nurdin Popa,beliau adalah juru kunci dan penerus ke 5 dari sala satu pengawal Imam Bonjol, dibangun pada tahun 2006. Setelah sholat dhuhur di tempat ini, waktunya melanjutkan perjalanan.

Biografi Tuanku Imam Bonjol 
Hasil tanya-tanya Mbah Google
 (lahir di Bonjol, Pasaman, Sumatera Barat, Indonesia tahun 1772) Wafat dalam pengasingan dan dimakamkan di Desa Lotak, Pineleng, Minahasa, 6 November 1864. Beliau adalah salah seorang ulama, pemimpin dan pejuang yang berperang melawan Belanda dalam peperangan yang dikenal dengan nama Perang Padri pada tahun 1803-1838. Tuanku Imam Bonjol diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973, tanggal 6 November 1973.
Nama dan gelar
Nama asli dari Tuanku Imam Bonjol adalah Muhammad Shahab, yang lahir di Bonjol pada tahun 1772. Dia merupakan putra dari pasangan Bayanuddin (ayah) dan Hamatun (ibu). Ayahnya, Khatib Bayanuddin, merupakan seorang alim ulama yang berasal dari Sungai Rimbang, Suliki, Lima Puluh Kota. Sebagai ulama dan pemimpin masyarakat setempat, Muhammad Shahab memperoleh beberapa gelar, yaitu Peto Syarif, Malin Basa, dan Tuanku Imam. Tuanku nan Renceh dari Kamang, Agam sebagai salah seorang pemimpin dari Harimau nan Salapan adalah yang menunjuknya sebagai Imam (pemimpin) bagi kaum Padri di Bonjol. Ia akhirnya lebih dikenal dengan sebutan Tuanku Imam Bonjol.

Riwayat perjuangan

Tak dapat dimungkiri, Perang Padri meninggalkan kenangan heroik sekaligus traumatis dalam memori bangsa. Selama sekitar 18 tahun pertama perang itu (1803-1821) praktis yang berperang adalah sesama orang Minang dan Mandailing atau Batak umumnya.

Pada awalnya timbulnya peperangan ini didasari keinginan dikalangan pemimpin ulama di kerajaan Pagaruyung untuk menerapkan dan menjalankan syariat Islam sesuai dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah (Sunni) yang berpegang teguh pada Al-Qur'an dan sunnah-sunnah Rasullullah shalallahu 'alaihi wasallam. Kemudian pemimpin ulama yang tergabung dalam Harimau nan Salapan meminta Tuanku Lintau untuk mengajak Yang Dipertuan Pagaruyung beserta Kaum Adat untuk meninggalkan beberapa kebiasaan yang tidak sesuai dengan Islam (bid'ah).
Dalam beberapa perundingan tidak ada kata sepakat antara Kaum Padri (penamaan bagi kaum ulama) dengan Kaum Adat. Seiring itu dibeberapa nagari dalam kerajaan Pagaruyung bergejolak, dan sampai akhirnya Kaum Padri dibawah pimpinan Tuanku Pasaman menyerang Pagaruyung pada tahun 1815, dan pecah pertempuran di Koto Tangah dekat Bat Sangkar. Sultan Arifin Muningsyah terpaksa melarikan diri dari ibukota kerajaan ke Lubukjambi.
Pada 21 Februari 1821, kaum Adat secara resmi bekerja sama dengan pemerintah Hindia Belanda berperang melawan kaum Padri dalam perjanjian yang ditandatangani di Padang, sebagai kompensasi Belanda mendapat hak akses dan penguasaan atas wilayah darek (pedalaman Minangkabau). Perjanjian itu dihadiri juga oleh sisa keluarga dinasti kerajaan Pagaruyung di bawah pimpinan Sultan Tangkal Alam Bagagar yang sudah berada di Padang waktu itu.
Campur tangan Belanda dalam perang itu ditandai dengan penyerangan Simawang dan Sulit Air oleh pasukan Kapten Goffinet dan Kapten Dienema awal April 1821 atas perintah Residen James du Puy di Padang, Dalam hal ini Kompeni melibatkan diri dalam perang karena "diundang" oleh kaum Adat.
Perlawanan yang dilakukan oleh pasukan padri cukup tangguh sehingga sangat menyulitkan Belanda untuk menundukkannya. Oleh sebab itu Belanda melalui Gubernur Jendral Johannes van den Bosch mengajak pemimpin Kaum Padri yang waktu itu telah dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol untuk berdamai dengan maklumat Perjanjian Masang pada tahun 1824. Hal ini dimaklumi karena disaat bersamaan Batavia juga kehabisan dana dalam menghadapi peperangan lain di Eropah dan Jawa seperti Perang Diponegoro. Tetapi kemudian perjanjian ini dilanggar sendiri oleh Belanda dengan menyerang nagari Pandai Sikek.
Namun, sejak awal 1833 perang berubah menjadi perang antara kaum Adat dan kaum Paderi melawan Belanda, kedua pihak bahu-membahu melawan Belanda, Pihak-pihak yang semula bertentangan akhirnya bersatu melawan Belanda. Diujung penyesalan muncul kesadaran, mengundang Belanda dalam konflik justru menyengsarakan masyarakat Minangkabau itu sendiri. Bersatunya kaum Adat dan kaum Padri ini dimulai dengan adanya kompromi yang dikenal dengan nama Plakat Puncak Pato di Tabek Patah yang mewujudkan konsensus Adat basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah (Adat berdasarkan Agama, Agama berdasarkan Kitabullah (Al-Qur'an)).
Rasa penyesalan Tuanku Imam Bonjol atas tindakan kaum Padri atas sesama orang Minang, Mandailing dan Batak, terefleksi dalam ucapannya Adopun hukum Kitabullah banyak lah malampau dek ulah kito juo. Baa dek kalian? (Adapun banyak hukum Kitabullah yang sudah terlangkahi oleh kita. Bagaimana pikiran kalian?).
Penyerangan dan pengepungan benteng kaum Padri di Bonjol oleh Belanda dari segala jurusan selama sekitar enam bulan (16 Maret-17 Agustus 1837)] yang dipimpin oleh jenderal dan para perwira Belanda, tetapi dengan tentara yang sebagian besar adalah bangsa pribumi yang terdiri dari berbagai suku, seperti Jawa, Madura, Bugis, dan Ambon. Dalam daftar nama para perwira pasukan Belanda, terdapat Mayor Jendral Cochius, Letnan Kolonel Bauer, Mayor Sous, Kapten MacLean, Letnan Satu Van der Tak, Pembantu Letnan Satu Steinmetz. dan seterusnya, tetapi juga terdapat nama-nama Inlandsche (pribumi) seperti Kapitein Noto Prawiro, Inlandsche Luitenant Prawiro di Logo, Karto Wongso Wiro Redjo, Prawiro Sentiko, Prawiro Brotto, dan Merto Poero.
Terdapat 148 perwira Eropa, 36 perwira pribumi, 1.103 tentara Eropa, 4.130 tentara pribumi, Sumenapsche hulptroepen hieronder begrepen (pasukan pembantu Sumenep, Madura). Serangan terhadap benteng Bonjol dimulai orang-orang Bugis yang berada di bagian depan dalam penyerangan pertahanan Padri.
Dari Batavia didatangkan terus tambahan kekuatan tentara Belanda, dimana pada tanggal 20 Juli 1837 tiba dengan Kapal Perle di Padang, Kapitein Sinninghe, sejumlah orang Eropa dan Afrika, 1 sergeant, 4 korporaals dan 112 flankeurs. Yang belakangan ini menunjuk kepada serdadu Afrika yang direkrut oleh Belanda di benua itu, kini negara Ghana dan Mali. Mereka juga disebut Sepoys dan berdinas dalam tentara Belanda.

 Setelah datang bantuan dari Batavia, maka Belanda mulai melanjutkan kembali pengepungan, dan pada masa-masa selanjutnya, kedudukan Tuanku Imam Bonjol bertambah sulit, namun ia masih tak sudi untuk menyerah kepada Belanda. Sehingga sampai untuk ketiga kali Belanda mengganti komandan perangnya untuk merebut Bonjol, yaitu sebuah negeri kecil dengan benteng dari tanah liat yang di sekitarnya dikelilingi oleh parit-parit. Barulah pada tanggal 16 Agustus 1837, Benteng Bonjol dapat dikuasai setelah sekian lama dikepung. Dalam bulan Oktober 1837, Tuanku Imam Bonjol diundang ke Palupuh untuk berunding. Tiba di tempat itu langsung ditangkap dan dibuang ke Cianjur, Jawa Barat. Kemudian dipindahkan ke Ambon dan akhirnya ke Lotak, Minahasa, dekat Manado  Di tempat terakhir itu ia meninggal dunia dimakamkan di tempat pengasingannya tersebut.


Share:
Copyright © Jelajah Wisata Alam Indonesia | Powered by Blogger Design by ronangelo | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com